Slogan "Kick Politic Out of Football, Fair Play, serta Say No To Racism
Tidak Berfungsi dengan Baik, Netizen Indonesia Sebut
FIFA & UEFA Menjilat Ludah Sendiri
Penulis: Muhammad Irfan Budiman
Edit: Muhammad Irfan Budiman
DEPOK - FIFA & UEFA memiliki 3 (tiga) slogan untuk menjunjung tinggi serta memajukkan pesepakbolaan dunia agar sepakbola dunia bisa maju. Ketiga slogan tersebut adalah Kick Politic Out of Football, Fair Play, dan Say No To Racism. Namun, ketiga slogan tersebut tidak berfungsi dengan baik lantaran FIFA & UEFA sudah melanggar ketiga slogan itu dengan mendukung Ukraina untuk menghentikan peperangan dengan Rusia serta mengabaikan peperangan yang terjadi di Timur Tengah, terutama peperangan Palestina-Israel yang sedang berlangsung, dengan cara membentangkan bendera Ukraina di big screen, membawa spanduk yang bertuliskan "STOP WAR" sebelum kick off babak pertama dimulai, serta menuliskan "STOP WAR atau NO WAR" di sebelah papan skor pertandingan, mengabaikan keselamatan para pemainnya dengan menambahkan 1 (satu) kompetisi baru, yakni Liga Konferensi Eropa (UEFA Conference League), menambahkan jumlah peserta Liga Champions Eropa menjadi 36 tim mulai kompetisi Liga Champions Eropa 2024/2025, serta memberikan hukuman berat ke Roman Abromovich & Chelsea FC. FIFA tidak mengetahui bahwa kejadian Kick Politic Out of Football pernah terjadi pada 2014 & 2017 saat suporter Glasgow Celtic diberikan hukuman oleh UEFA berupa denda sebesar 10 juta Euro atau sekitar Rp145 juta karena mengibarkan bendera Palestina serta menyanyikan lagu yang bertujuan untuk menyerang Israel saat pertandingan Celtic vs Hapoel Be'er Sheva pada Kualifikasi Liga Champions Eropa 2016/2017. Bahkan, suporter Glasgow Celtic nekat dengan melakukan hal yang sama seperti Kualifikasi Liga Champions Eropa 2016/2017 saat Celtic berhasil menang 5-2 atas Hhapoel Bbe'er Sheva. Bukan hanya suporter Celtic yang terkena hukuman denda, Paul Pogba, Amad Diallo, Wesley Fofana, dan Hamza Choudhury mengalami hal serupa.
Perlu diketahui bahwa Paul Pogba & Amad Diallo membawa bendera Palestina di tengah konflik Palestina-Israel berlangsung. Paul Pogba & Amad Diallo membawa bendera Palestina setelah pertandingan Manchester United vs Fulham FC pada lanjutan Liga Primer Inggris 2020/2021 Pekan 37, sedangkan Wesley Fofana & Hamza Coudhury membawa bendera Palestina saat Leicester City berhasil menjuarai Piala FA 2020/2021 setelah Leicester City meraih kemenangan atas Chelsea FC dengan skor tipis 1-0 pada Selasa, 15 Mei 2021. Bahkan, Paul Pogba, Amad Diallo, Wesley Fofana, dan Hamza Choudhury dikecam oleh FA selaku Asosiasi Sepakbola Inggris. FIFA & FA beralasan bahwa pengibaran bendera Palestina yang dilakukan oleh suporter Celtic, Paul Pogba, Amad Diallo, Wesley Fofana, dan Hamza Coudhury merupakan suatu hal yang salah karena sepakbola tidak boleh digunakan untuk berpolitik maupun melakukan rasisme. Sebaliknya, FIFA memberikan dukungan ke Ukraina imbas Rusia menginvasi Ukraina. Bahkan, FIFA tidak segan-segan memberikan hukuman ke Rusia berupa pencoretan Timnas Rusia dari Babak Play-off Kualifkasi Piala Dunia 2022 serta mendiskualifikasi Spartak Moskow dari Babak 16 Besar Liga Europa 2021/2022. Pencoretan Timnas Rusia dari Babak Play-off Kualifkasi Piala Dunia 2022 serta mendiskualifikasi Spartak Moskow dari Babak 16 Besar Liga Europa 2021/2022 mendapatkan kritikan dari pecinta sepakbola karena FIFA tidak menindak tegas dengan aksi Israel yang memborbardir serta menyerang Palestina dengan mencoret Timnas Israel dari Piala Dunia atau Piala Eropa (EURO) serta mencoret klub-klub Israel yang berkompetisi di Liga Champions Eropa, Liga Europa, dan Liga Konferensi Eropa (UEFA Conference League). Bahkan, ada salah satu netizen Indonesia yang menyebutkan bahwa permasalahan FIFA merupakan cerita lama. "Dari yang paling umum aja-lah bre, masalah jatah pembagian Piala Dunia. Semua dikotak-kotakan bagiannya. Bangsa barat dapat jatah paling gede, sedangkan bangsa timur dapat jatah paling kecil. Katanya, pengen nge-buat sepakbola lebih bersaing. Kok dari jatah pembagian masuk Piala Dunia aja dibeda-bedakan kek gitu? Padahal, bulutangkis aja jatah peserta negara yang masuk Piala Thomas & Uber itu sama, yaitu siapa yang juara dan masuk semifinal di masing-masing kejuaraan regionalnya maka dia berhak ikut Piala Thomas & Uber walaupun memang asia masih mendominasi" ujar BrokenHeart 18 seperti yang dikutip dari channel youtube Starting Eleven Story yang berjudul Memisahkan Politik dari Sepakbola Hanyalah Omong Kosong. Lalu, BrokenHeart 18 menambahkan dari channel youtube dan judul yang sama, yakni channel youtube Starting Eleven Story "Oseania lebih parah cuma dapat 1 slot. Itu pun harus berhadapan dengan wakil Asia di babak play-off. Yaaaa..., gimana gak tambah modar Oseasina makanya kenapa Australia sampai pindah federasi dari Oseania ke Asia. Jangan lupa FIFA punya sistem kasta pembagian region sesuai dengan kekuatan. Bahkan, pembagian region dilakukan secara terang-terangan. Ada region terkuat dan region terlemah. Jelas, Eropa yang terkuat dan Oseania masuk region terlemah. Padahal, federasi olahraga lain gak ada loh yang sampai buat kasta-kastaan region kek gini walaupun kelihatan region mana yang paling mendominasi".
Penamaan slogan Say No To Racism yang diucapkan oleh FIFA tidak sesuai fakta di lapangan. Sebagian besar pemain sepakbola yang bermain di liga-liga Eropa, seperti Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Perancis, dan liga-liga Eropa lainnya menjadi sasaran rasis. Bahkan, Marcos Alonso & Wilfried Zaha menolak untuk berlutut beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Mereka mengganggap bahwa para pemain harus berdiri tegak apabila ingin melawan rasisme. Sebaliknya, para pemain yang menekuk lutut merupakan suatu hal yang merendahkan rasisme. "Saya sangat menentang rasisme dan segala bentuk diskriminasi. Saya sekadar memilih untuk menunjuk lencana yang bertuliskan No To Racism." ujar Alonso seperti dikutip Kompas TV yang berjudul Marcos Alonso Tolak Berlutut Sebelum Kick Off, Ini Alasannya & The Athletic. Lalu, Marcos Alonso menambahkan "Saya memilih cara ini dan tentu saja untuk mengatakan dengan jelas bahwa saya menentang rasisme dan menghormati semua orang"
No comments:
Post a Comment